Personal blog. Keep to be a silent reader. No bullying !

Monday, 19 June 2017
Berlangganan

#Storytell: Bandung, pada waktu itu.

Ceritanya, tadi abis oprek-oprek file laptop.
Dan tak sengaja, melihat sesosok manusia-manusia-remaja pada saat itu.
Here we are.
PESUT.
Hahaha sedikit aneh sih memang. Nama ikan. Dan itu menjadi identitas nama kelompok kami.

Jadi, tiga tahun yang silam Kementerian Pemuda dan Olah Raga mengundang para aktivis-aktivis kampus untuk mendelegasikan perwakilannya mengikuti kegiatan Pelatihan Manajemen Organisasi Kemahasiswaan.
Kegiatan ini seharusnya diikuti oleh para junior-junior di BEM, karena memang seharusnya merekalah yang mengambil alih demi suatu ilmu.
Ndilalahnya, waktu itu bulan April dan bulannya UTS (Ujian Tengah Semester). Anak-anak semuanya ada ujian, posisiku waktu itu semester 6 atau 7 kulupa yang notabene terbebas dari mata kuliah mata kuliah yang mengerikan.
Dengan amat sangat terpaksa, Pak Presiden menugaskan para menteri untuk berangkat.
Dan entah kenapa aku dan Aji yang diamanahkan untuk mewakili Unsoed.

Perjalanan pertama kami, aku dan Aji dimulai dengan drama. Yes, drama never die.
Kami ini seharusnya naik kereta menuju semarang jam setengah 5. Dan dua-duanya kesiangan -_-
Panik, pagi-pagi langsung kontak Mas Anton (Yap, doi selalu menjadi andalanku hingga saat ini) dan Mas Anton langsung menyarankan kami naik bus dengan jurusan ina-ini-itu.
Dapatlah kami si tiket bus itu. Lama. Deg-degan. Takut ketinggalan pesawat.
Akhirnya sampailah kami di Banyumanik.
Menuju bandara dengan taksi.
Super ngebut dan mengerikan, karena kejar waktu.
Dan alhamdulillah, sangat on time alias mepet 😂

Siang sampai bandara Soetta. Bener-bener jetleg, bingung harus kemana dan naik apa.
Tak hilang akal, aku langsung kontak Mas Ucup ex BEM Unsoed 2011.
Dapatlah kami petunjuk.
Dan, dengan modal nekat baiklah kami naik mobil charter. Entah waktu itu berapa ongkosnya. Selama gratis, no problemo. 😂
Sampailah kami di Kementerian Pemuda dan Olah Raga.
Duduk-duduk manis. Makan siang. Shalat.

Sekita sore atau Maghrib, datang rombongan lain. Entahlah rombongan kampus mana, aku tak peduli. Yang kuingini adalah, ku ingin rebahan.
Akhirnya malam setelah full team, rombongan menuju Bandung.
Sesampainya di Hotel, kami diberi arahan dan diberi kunci kamar.
Toktok.
Krek.
Halo.. saya April dari Universitas Jenderal Soedirman. Salam kenal.
Hai saya Rina dari UIN Bandung.
Yup. Perkenalan pertama sama si Teteh.
Teh Rina. Shaleha, ukhti, keibuan pulak. Dan alhamdulillah aku nyambung sama teteh.
Bahkan sampai sekarang pun masih sering kontak. Si teteh udah menikah dan punya anak sekarang. Alhamdulillah.

Keesokan harinya.
Kumpul lah para aktivis-aktivis dari seluruh pelosok Nusantara.
Gak ada yang aku kenal satu pun, ya selain partnerku si Om Aji.
Pembawa acara mengomandokan kami berhitung dari angka 1 sampai dengan angka berapa entahlah kulupa.
Setelah masing-masing mendapatkan nomor, kami diarahkan untuk menutup mata.
Kemudian teriak dengan nomor yang didapat. Dan harus berkumpul dengan nomor yang sama, tanpa membuka mata.
Karena sebegitu jujurnya, aku mentaati peraturan tersebut menutup mata sampai ada yang memegang tanganku, eh sini kelompok ini.
Dalam hati "Ya Allah siapa ini pegang-pegang tangan gue? Dia gak tau apa kalo gue kaga sentuhan ama laki". (Bahkan sampai saat ini aku gak tau siapa yang megang tanganku waktu itu).

Berkumpullah kami entah berapa orang yang kemudian tersisa 7 manusia.
1. Mas Wahyu dari Universitas Hasanudin
2. Bang Haerdy dari Universitas Mulawarman
3. Tommy Safaryah dari Universitas Negero Yogyakarta
4. Abi dari Surabaya
5. Bang Deva dari Kerinci
6. Helmi (yang paling muda) dari Universitas Padjajaran
7. Its me, Trian Aprilianti Universitas Jenderal Soedirman.
Yak, betul !
The one and only, wedok dewean. Perempuan satu-satunya.
Mulai diskusi untuk penamaan kelompok. Tercetus lah nama Pesut dengan ketua si Mas Wahyu.
Melingkarlah kami.
Perkenalan satu-satu. Nama, delegasi, dan asal daerah.

Eh eh eh denger nama yang asalnya Cirebon ternyata. Ya ampun, satu rumpun. Dan aku bahagia, akhirnya ada yang aku kenal (mungkin karena merasa serumpun) ditengah-tengah ketakutanku akan lelaki-lelaki asing ini.
Pokoknya, kemana dan kenapa aku sama si Mas ini.
Karena entahlah aku sendiri juga kurang paham mengapa sebegitu "klik" nya aku dengan satu orang ini.
Lagi, karena kita serumpun.
Nyambung dan sealiran.
Usut punya usut, ternyata si dia adalah anak organisasi islam yang berkekuatan super disetiap kampus manapun. Secara, dia Presiden. Dan pasti usungan dari si organisasi islam itu. Baiklah.
Dalam hati "yailah kenapa sih gue selalu berurusan dengan anak K***I. Ujung2nya temenan sama golongan itu lagi golongan itu lagi".

Ohya, selain teh Rina, aku juga dekat dengan Umi dan Mas Arif dari STAIN Purwokerto, Si Cicih UIN Bandung, Anung dari Yogya.
Jadi kemana-mana, aku ngintil si Teteh, Umi dan Cicih. Always together. Makan siang, makan malam hingga sarapan. Selalu berempat.

Sejujurnya, acaranya sih biasa aja. Seru aja, bukan seru banget.
Seru karena suka nonton diskusi-diskusi para aktivis (maklumlah ya karena mamak-mamak Sekab ini kaga pernah debat mendebat).
Ada yang vocal. Ada yang pasif. Ada yang diam tapi mengamati.
Berasa hidup yang benar-benar hidup ala mahasiswa.

Ya, setelah sekian lamanya hampir 3 tahun yang lalu..
Di kota Bandung, kota romantis.
Pertemuan demi pertemuan dengan seseorang yang sampai saat ini selalu menjadi tanya "kok bisa ya? Kok gitu ya".
Semuanya, Allah sudah mengatur.
Kamar terkunci, delay pesawat, lagu-lagu favorit, Glenn Fredly, dan ruang tunggu bandara menjadi cerita bahwa semuanya adalah campur tangan Allah. Bahkan sampai detik ini.
Alhamdulillah, kabar bahagia datang dari Mas Wahyu sang ketua gengges, menikah di tanggal 11 Juli 2017. Alhamdulillah barakallahu.

Percayalah, semua perjalanan ini bukan aku yang mengingini.
Aku yang diatur oleh Tuhan.
Untuk bertemu, menyapa, menghilang, kemudian bertemu kembali.
Sampai hari ini, masih seperti yang lalu.
Andaikata Tuhan tak mengizinkan, biar aku menjadi orang yang terkenang dengan "Aku yang selalu mencintai Indonesiamu".
Saat itu, Bandung syahdu.
Bandung gerimis.
Bandung punya cerita.
Pertemuan pertama, dengan orang-orang yang luar biasa.

Aku rindu suasana mahasiswa.
Rindu suasana almamater.
Dan rindu Bandung. ❤

Jakarta, 20 Juni 2017.