Personal blog. Keep to be a silent reader. No bullying !

Monday, 29 June 2015
Berlangganan

"JALAN CINTA PARA AKTIVIS"



 "Bukanlah sebuah jabatan dan kedudukan yang kita harapkan, kita hanya ingin memenuhi janji untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Ah, mungkin kita terlihat berpura-pura tak cinta harta benda, tetapi ya inilah diri kita dan perjuangan kita. Jalan ini tidak mudah, Kawan. Jalan ini, ya jalan ini sampai akhirnya mempertemukan kita semua disini. Di jalan ini kita bersama berjuang, ah terlalu sepele jika dibandingkan para pejuang, namun kita sering menggunakan kata ini untuk membangkitakn rasa semangat kita untuk tetap berada di jalan ini.
Hanya perlu keikhlasan untuk menjalani jalan ini, keikhlasan untuk berpikir lebih, keikhlasan untuk disakiti lebih, dan keikhlasan untuk berlapang dada lebih. Inilah hal yang diperlukan untuk menjalani jalan ini. Apakah jalan ini sebegitu sulit untuk dilalui?
Mengapa persyaratannya begitu berat dan terlihat sangat menyakitkan? Apa balasannya?
Balasannya hanya ridho Ilahi. Ya, balasannya hanya itu saja. Jika kau mengharapkan lebih maka bukanlah di jalan ini tempatnya. Silahkan kau cari jalan lainnya. Jika kau dapati aku mendapatkan hal-hal yang lainnya ini merupakan bonus. Setelah lelah dan letih seharian menjalankan sebuah kegiatan , bonusnya itu tidak lebih nasi bungkus untuk makan siang atau makan malam. Anehnya, setelah kegiatan itu berlangsung kita merasakan senang dan bahagia, padahal setelah kegiatan itu kita harus kembali lagi menjadi mahasiswa, diterjang oleh beberapa tugas-tugas dan ujian-ujian mata kuliah. Kadang kala kita harus memutar otak bagaimana semua tugas-tugas itu dapat dikerjakana dengan baik, namun amanah di organisasi juga berjalan tak kunjung dengan optimal. Atau tugas kita lainnya menjadi anak bagi orangtua tercinta, dan teladan selaku kakak bagi adik-adik kita.
Semuanya harus berlangsung di waktu yang bersamaan, hingga terkadang aku berpikir bahwa kita menggadaikan masa muda kita dengan perjuangan ini. Namun, aku tahu bahwa kita ternyata sedang dijaga oleh-Nya dari perbuatan-perbuatan sia-sia, dari perbuatan-perbuatan yang justru akan menambah dosa.
Sungguh perjalanan ini sangat melelahkan. Tetapi, kawan, entah mengapa kita pilih jalan ini. Akupun sempat bertanya kepada diriku mengapa jalan ini yang kupilih? Karena cinta, ya karena cinta sehingga kita saling terhubung dalam jalan ini, dengan ikatan atas nama cinta untuk tetap terus bersama. Emas menggunung dan mahkota bertahtakan berlian pun tidak akan sanggup membayar ini semua. Namun, aku masih heran, mengapa kita masih mau berada dijalan ini. Aku menyebutnya jalan cahaya, dimana jalannya yang panas, dan aku berharap ada angin syurga yang berhembus untuk sekedar menyejukkan hati ini.
Bahkan orang-orang disekitar kita pun tidak menghargai, tetapi masih saja kita terus berada di jalan ini. Tidak sedikit mereka mencemooh diri kita. Banyak yang berkata ini hanyalah pelarian dari akademik kita yang buruk. Atau banyak yang berkata ini adalah maneuver agar kita dapat terkenal dengan cepat. Atau yang lebih menyakitkan lagi banyak yang berkata bahwa kita hanyalah sekelompok orang-orang yang kurang kerjaan. Sungguh miris, Kawan, ya semua itu tidaklah berbayar dan hanya atas dasar cinta kita melakukannya.
Mereka tidak tahu kalau kita berjuang untuk nilai akademik, sembari harus memikirkan program-program kerja yang telah disusun, mengerjakan tugas-tugas di sepinya malam, berselimutkan bintang temaram yang menenteramkan hati, dan tidur bersama senandung nyanyian malam.
Matematika kita sungguh membingungkan, siapa diri kita dan siapa mereka. Kita tidak terhubung dengan ikatan darah, namun mengapa kita memperjuangkannya, memikirkannya, mau bersusah payah, dan membantunya? Lantas apa yang kita dapatkan? Kita hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar. Sungguh matematika yang sangat membingungkan.
Kawan, bekerja disaat yang lain terlelap, bersemangat disaat yang lain mengeluh. Berteriak disaat yang lain diam, dan berlari disaat yang lain berjalan. Angkuhnya kita sering bersuara bahwa jalan inilah yang sangat membutuhkan kita. Namun ternyata, Kawan, kitalah yang sebenarnya membutuhkan jalan perjuangan ini. Untuk mencari ridha-Nya, kitalah yang memerlukan jalan ini untuk merasakan anginnya berjuang, kita lah yang membutuhkan jalan ini untuk senantiasa saling terhubung dalam ikatan yang disebut dengan ukhuwah.
Terkadang lelah itu saling menghinggapi, terkadang jenuh itu saling menghinggapi, terkadang air mata itu tak tertahankan dan peluh terus menetes. Namun, aku tahu pasti kita akan selalu ada untuk menggenggam tangan ini, untuk memberikan sandaran, untuk memberikan senyuman paling hangat, dan untuk menghapus air mata ini. Memberikan cinta penawar luka.
Biar mereka, yang tidak tahu apa-apa terus mencemooh kita, biarkan mereka terus menghakimi kita, biarkan mereka terus menyudutkan kita, namun aku tahu pasti kau dan aku, kita akan terus berjalan dijalan ini, mencari puing-puing berserakan, menyusunnya dalan sebuah kumpulan mozaik indah untuk agama, untuk almamater, dan untuk bangsa kita. Untuk sekedar sebuah torehan indah dalam episode hidupku.
Inilah jalan kita, jalan cahaya yang penuh cinta, aku lebih senang menyebutnya dengan jalan cinta, karena hanya atas dasar inilah kita, aku dan kau, dapat berjalan bersama, dengan matematika yang sangat membingungkan".

Dikutip dari tulisan indah, Seztiva Miyasyiwi.