Personal blog. Keep to be a silent reader. No bullying !

Friday, 31 July 2015
Berlangganan

We Are Heroes, PSM GBS !



Tercipta dari almamater atas nama Jenderal Soedirman, sebuah kampus di kota kecil dilereng Gunung Slamet. Ia bernama Purwokerto, Kota Satria.
Menjadi mahasiswa yang aktif sebagai ‘tim hore’ dalam sebuah organisasi berturut-turut sampai semester 9. Jika ditanya, bagaimana perasaannya bergelut didunia organisasi dengan jangka waktu yang cukup lama? Satu kata, bahagia.
Ya, saya bahagia terlahir dari 2 organisasi yang berbeda. Seni dan Politik. Paduan Suara mahasiswa Gita Buana Soedirman (PSM GBS) dan Badan Eksekutif Mahasisawa Universitas Jenderal Soedirman (BEM Unsoed). Dua organisasi yang sudah membesarkan saya dengan segala prosesnya. Dari nothing menjadi everything. Dari kekalahan menjadi sebuah emas kemenangan.
Paduan Suara Mahasiswa Gita Buana Soedirman (PSM GBS)
Organisasi pertama yang saya ikuti sejak pertama awal registrasi Mahasiswa Baru angkatan 2010. Nekat, sungguh nekat. Modal karena hobi menyanyi yang kemudian disuguhkan dengan audisi recruitment anggota PSM GBS 2010. Sendiri. Hujan deras. Ruang audisi. Tiga orang dewan juri. Nerveous, verry verry nervous.
Organisasi seni ini adalah lembaga kekeluargaan. Disini, saya benar-benar menemukan rumah dan keluarga baru di kota rantauan. Pada perjalanan karir organisasi saya terpilih dari berpuluh-puluh anggota baru sebagai pengurusharia organisasi PSM. Saya semakin mencintai lembaga ini, mencinta hobi menyanyi, mencintai proses latihan notasi demi notasi. Selain bernyanyi, lembaga inipun memiliki management secara structural dimana lembaga ini memiliki proses untuk beraktualisasi diri. Dari statemen inilah saya berdiri di PSM GBS sebagai ‘operator organisasi’ bukan sebagai tim penyanyi.
Setelah dinobatkan menjadi ketua panitia pada program kerja besar, saya dicalonkan sebagai Kepala Bidang Administrasi. Meski belum mampu dalam tata kelola administrasi, berkat dukungan dan semangat dari senior tentu saja saya selalu mencoba dan belajar sebaik mungkin.
Pada suatu kesempatan, kami sepakat untuk mengikuti lomba Paduan Suara tingkat Nasional untuk pertama kalinya dalam sejarah PSM GBS. Pada saat itu ada 2 penawaran, memilih sebagai tim penyanyi atau sebagai official team. Saya memilih 55% sebagai tim penyanyi dan 45% sebagai official team. Saya masih berharap bahwa sebagai anggota PSM seharusnya saya adalah penyanyi. Dan dengan segala pertimbangan semua banyak pihak, akhirnya saya dipilih sebagai official team.Pada saat audisi tim penyanyi, coach mengatakan bahwa saya layak menjadi tim penyanyi. Tapi senior-senior saya seperti Mbak Puti, Mas Fajar, Mas Heras lebih menginginkan saya sebagai official team. Saya mengalah. Karena saya tahu, siapa lagi jika bukan saya yang mau mengorbankan cita-cita untuk menjadi tim penyanyi pada lomba nasional dan bergengsi ini? Karena pada saat itu, menjadi tim penyanyi adalah suatu prestasi puncak. Saya berkorban untuk hal ini.
Lomba nasional kali ini benar-benar pengalaman pertama bagi kami. Awam dan buta. Tapi kami punya coach dan ketua tim yang sangat luar biasa. Pengalaman ini adalah satu-satunya pengalaman yang sangat amat tidak bisa dilupakan seumur hidup. Berangkat lomba dengan modal pas-pasan. Loby sana-sini. Banting tulang, berjualan apa yang bisa dijual. Sampai akhirnya kami berangkat ke Bandung, mengikuti lomba dengan membawa segala keterbatasan. Satu minggu di Bandung, benar-benar menyedihkan, memprihatinkan. Tapi kami masih punya tekad untuk menjadi pemenang.
Lalu pengumuman pun dimulai, kami menangis mendengar kekalahan. Terpukul. Semua menangis histeris dalam dinginnya malam kota Bandung. Semua menangis tanpa terkecuali. Kecewa. Dan tentu saja yang lebih kecewa adalah coach kami. Ya, kami membawa peringkat 3 terbawah. Sangat buruk.
Setahun kemudian dengan kepengurusan baru, dan pada saat itu saya diangkat sebagai Kepala Bidang Keuangan. Kami memutuskan kembali untuk mengikuti lomba Nasional di Semarang. Pada kali ini yang diajukan sebagai leader of official team adalah Saya dan partner terbaik saya, Ecca. Kami berdua sepakat bahwa diantara kami tidak ada yang namanya ketua tim, karena ketua tim nya adalah kami berdua, saya dan Ecca. Segala persiapan telah kami persiapkan dengan matang, belajar dari kesalahan satu tahun yang lalu. Sama seperti dulu, kami berangkat dengan anggaran yang ala kadarnya. Dan tentu saja dengan keoptimisan kami. Seingat saya, lomba di Semarang hanya berlangsung 5 hari. Kami mengorbankan semuanya, harta benda yang ada didalam diri kami. Proses memang tidak akan mengkhianati hasil. Pada malam pengumuman, kami berhasil mendapatkan MEDALI EMAS dan satu trophy terbaik. YES, WE CAN DO IT!!!! Kami berteriak histeris menangis haru seharu-harunya. Perjuangan kami tidak sia-sia. Kami berhasil membawa tim pada kejayaan emas. Dan itu lah masa-masa jaya PSM GBS dikancah Nasional, sampai detik ini di tahun 2015 PSM GBS dibawah pimpinan adik-adik junior selalu meraih emas dalam perhelatan perlombaan. Saya bersyukur untuk itu, untuk menjadi seseorang sebagai pengatur organisasi bukan sebagai penyanyi.
Dan kini, PSM GBS-ku sedang bertarung di ajang Bali International Choir Festival. Lagi-lagi sebuah prestasi karena untuk pertama kalinya PSM GBS mengikuti lomba tingkat International. Mohon do'a dan dukungannya agar adik-adik kami bisa membawa nama harum Universitas Jenderal Soedirman dan nama baik Indonesia di kancah dunia.

Itulah cerita perjuangan saya dan teman-teman membawa nama PSM GBS dan tentu membawa nama baik Jenderal Soedirman dikancah Nasional. Sekali lagi saya bangga bisa membawa Unsoed dimasa keemasannya.

Dokumentasi foto: Official PSM GBS

Satya Dharma Gita National Choir Festival