Personal blog. Keep to be a silent reader. No bullying !

Friday, 8 January 2016
Berlangganan

Semoga Kita Jodoh

Menyambung dari tulisan yang lalu (Mungkin Kita Belum Jodoh -red), kali ini saya akan menulis tentang pengalaman saya hari ini.
Kemarin, 7 Januari disiang hari ada telepon masuk dari nomor kantor.
"Halo, benar dengan Trian Aprilianti SP?
Ya benar, gimana mba?
Saya dari perusahaan xxxxxx memanggil anda untuk mengikuti tes besok jam 8 pagi. blablablabla"

Selang beberapa detik setelah handphone saya tutup, saya berfikir "Perasaan saya gak apply di kantor xxxxx deh"
For Your Information, awal bulan november 2015 saya memang apply di perusahaan Jepang itu, dan tanggal 23 november saya di telepon sama HRD untuk tes. Tapi saat itu memang saya sedang di Bandung, tepatnya 2 jam setelah mendarat di rumah, dan akhirnya memang harus saya relakan untuk melepas perusahaan yang saya lamar. Mungkin belum jodoh, pikir saya saat itu.
Dan hari ini saya diberikan bukti nyata bahwa, rejeki tak akan kemana. Alhamdulillah hari ini saya mengikuti tes dan interview di perusahaan Jepang untuk posisi Koordinator.

Ada empat orang (termasuk saya) yang akan seleksi. Satu perempuan namanya Monic lulusan D3 melamar diposisi Admin, dua laki-laki lulusan SMK yang melamar posisi driver.
Seperti biasa saya selalu berkenalan alias lebih ke- sok kenal sok dekat dengan ketiga kandidat.
Monic, dari pertama kenalan bahkan belum sempat dia menyebut namanya, ini perempuan langsung curhat (curahan hati -red) tentang Monic yang sekolah dari SD sampai kuliah selalu di Indramayu. Monic satu tahun dibawah saya, dan dia cerita soal tantenya yang punya rumah terus dikotrakin sampai tantenya yang belum punya anak -_-
Laki-laki pertama, berbaju kotak-kotak. Dari tampilannya, hmm sedikit kurang rapi untuk orang yang akan diinterview. Saya lupa tanya namanya, jadi saya sebut dia mas kotak. Mas kotak ini lulusan SMK jurusan otomotif, dan dia memang sudah dua tahun kerja di Jakarta. Kata dia, tadi pas diinterview banyak ditanya dan dia bingung jawabnya. "Gak bisa ngomongnya saya mba", katanya.
Laki-laki kedua, baju putih, rapih, badan tegap tinggi. Saya ajak ngobrol, dan saya terenyuh.
Dia lulusan SMK Pelayaran. Dulu sempat tes untuk kerja di kapal pesiar Jepang. Tapi gagal karena biaya.
"Sebenarnya saya lolos tes mba, tapi disuruh bayar 18 juta. Saya gak punya uang segitu mba. Jadi saya memundurkan diri".
 Jleb !

"Terus saya coba daftar jadi polisi mba. Saya lolos sampai PANTOHIR (Pantauan Akhir -red), dan saya memundurkan diri karena harus bayar 30 juta. 18 juta aja saya gak bisa mba apalagi 30 juta. Tapi saya udah ngobrol sama keluarga, udah mau gadai sertifikat rumah. Waktu itu batas pembayaran harus besok jam 7 pagi setelah pengumuman, tapi tempat pegadaiannya buka jam 8 pagi. Jadi gak keburu. Saya sedih mba, tapi ya gimana lagi. Saya kadang malu mba ketemu sama temen yang udah jadi polisi. Tapi setidaknya saya punya banyak kenalan sama polisi dan brimob".
Saya semakin terbawa suasana

"Mba sih enak lulusan sarjana, saya mah susah mba"
Sigap saya langsung jawab "Mau sarjana, mau SMA, mau SMK sebenarnya sama aja mas. Saya S1 lulus, pengangguran. Mas yang SMK lulus, pengangguran. Sama aja kan? Yang membedakan adalah rezekinya mas. Kalau belum rezeki, apapun lulusannya ya tetep aja pengangguran. Dan rezeki gak akan pernah ketuker"
Dan masnya balas "Iya sih ya mba. Saudara saya kuliah dan sekarang jadi guru, saya malah dilarang buat kuliah mba. Katanya, udah gak usah kuliah. Udah biayaya mahal, terus kalo mau kerja juga sama aja kaya lulusan-lulusan SMA. Jadi PNS tetep aja bayar"
Makjleb!
"Iya sih mas, mau kuliah atau SMK itu sama aja. Yang bedain cuma pengalaman dan pola pikir aja"
"Iya ya mba"

Saya benar-benar mendapat pelajaran hari ini dari ketiga junior yang saya temui pada waktu yang singkat itu. Kegagalan yang sudah saya dapat di masa-masa jadi pengangguran, tidak ada artinya dibandingkan dengan cerita si mas berbaju putih itu.

Oke, back to topic.
Sebelum saya mengikuti tes, saya terlebih dahulu diinterview. Seperti biasaya, interview adalah bagian yang paling saya sukai, entah kenapa. Dan selalu berkesan, mujur, lancar dan mimik interview seakan-akan "ini anak patut diperhitungkan".
Ini adalah interview ketiga saya setelah sebelumnya saya pernah diinterview di kantor BUMN (gagal lolos ditahap akhir), interview kedua di kantor swasta di bagian jasa (lolos tapi resign), interview yang ketiga adalah ya hari ini, dan semoga lolos.

Masih hangat dengan tulisan Mungkin Kita Belum Jodoh yang beberapa hari yang lalu baru saya posting, hari ini saya benar-benar percaya bahwa tulisan atau menulis adalah do'a yang tertulis. Apa yang saya tulis kemarin adalah sebagian dari do'a-do'a saya, dan hari ini juga do'a saya terkabul meski masih dalam ambang ketidakpastian.
Kemarin saya bedo'a agar saya diberi kesabaran untuk menunggu rezeki, kali ini saya berdo'a agar saya diberikan hasil yang terbaik dari usaha yang hari ini telah saya jalani. Diterima atau ditolak, semuanya pasti yang terbaik untuk diri saya.
Saya ingini pekerjaan yang baik. Baik bukan hanya soal salary atau kantor yang bergengsi, tapi baik untuk keseluruhan tanpa menghilangkan prinsip-prinsip yang sudah saya pegang.

Terakhir, sang bapak interviewer tanya "Apakah ada yang ditanyakan mba?"
Dan "Maaf pak, seandainya saya lolos dan diterima hmm untuk pakaian, apakah boleh jika saya memakai rok? Mohon maaf saya tidak terbiasa dengan pakaian celana Pak"
"Oh ya gakpapa mba, gak masalah. Disini pun ada pegawai yang sama seperti mba (kerudung panjang dan rok-red) sama kok lulusan Unsoed, asli Kuningan. Dan saya berharap dan mendo'akan semoga mba diterima"

Hhhh... saya lega. Lega karena calon-kantor tidak mempermasalahkan soal prinsip saya. Karena jika bertentangan, saya jelas akan mundur.
Mungkin ini alasan mengapa sampai enam bulan saya menganggur. Bukan maksud pilih-pilih, tapi memang harus pintar memilih mana pekerjaan yang cocok dengan prinsip. Jangan sampai prinsip digadai dengan soal pekerjaan. Hanya Allah yang tahu dan memahami, setiap orang berbeda-beda dengan cara pandangnya masing-masing, dan saya menghargai akan hal itu.

Jadi, semoga kita jodoh ya kamu :)



Rumah, 8 Januari 2016.