Personal blog. Keep to be a silent reader. No bullying !

Wednesday, 15 June 2016
Berlangganan

Pilihan Diantara Pilihan

"Perempuan itu Pril, berhak untuk memilih. Memilih menolak misalnya"

Percakapan chatting malam itu dengan kawanku.
Katanya, sebagai perempuan tak apa sedikit agresif. Tak masalah.
Tapi sepertinya rasa jaim saya jauh lebih besar dari rasa agresif saya.
Karena saya masih berpegang teguh bahwa kodrat perempuan itu menunggu.
Meskipun banyak sekali yang menganalogikan kisah saya dengan kisah Ibunda Siti Khadijah, bahwa beliau lah yang melamar atau meng-khitbah Rasulullah pada masa itu.
Dan, kenapa lo enggak bisa? Kata kawanku saat itu.

"Lo kasih target aja Pril, dia berani nggak nikah sesuai yang lo targetin"

Sepertinya bukan soal berani atau tidak berani. Tapi soal yakin dan meyakini.
Karena niat serius itu bukan dari hasil menimang-nimang hipotesa. Melainkan dari proses "meyakinkan".

"Oke, berarti lo harus realistis. Lo lihat didepan, lo iya-kan orang yang jelas-jelas di depan mata lo"

Menikah itu bukan soal siapa yang sudah siap dan mapan. Tapi soal seberapa yakin saya percaya bahwa dia lah satu-satunya lelaki yang mampu membawa dan membimbing saya ke Syurga Allah.

"Jadi lo pilih mana, menikah dengan orang yang lo cintai atau menikah dengan orang yang mencintai lo?"

Menikah itu, keinginan semua laki-laki dan perempuan yang sudah berusia cukup matang. Termasuk saya, mungkin.
Soal cinta, alangkah bahagianya jika kita menikah dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita.
Tapi, jika orang yang dicintai tak bisa berbuat apapun, maka menikah dengan yang mencintai tanpa kita cintai adalah jalan pintasnya.

Saya masih menunggu jawaban dari Sang pemilik hati, Sang Maha Pembolak-balik. Saya menunggu, semoga hati yang diam ini akan diberi hati yang lain yang menentramkan jiwa dan iman islam saya.
Karena pilihan diantara pilihan sampai saat ini masih tak cukup meyakinkan hati nan dingin.

Semoga, tak terburu-buru adalah keputusan tepat untuk menunggu hati yang dicintai di masa lalu.
Lebih baik banyak menolak, dari pada salah memilih.

Yes,
Mungkin ini jawabannya mengapa sampai hari ini perempuan berusia 24 tahun masih sendiri melajang. And, i'am proud.
:)