Personal blog. Keep to be a silent reader. No bullying !

Thursday, 9 June 2016
Berlangganan

Upik Abu dan Para Princess

"Friendship never end"
Itu tema acara Reuni nanti, Reuni masa putih-biruku. Masa transisi anak SD ke SMP. Masa kecil menuju masa agak-remaja. Masa-masa yang paling indah. Masa-masa pengenalan organisasi pertamaku. Masa-masa cinta pertamaku. Masa-masa penemuan sahabat sejati dalam makna sebenarnya.
Aku ingin sedikit-banyak mengingat soal kenangan masa-masa SMP-ku. Kenangan dimana, seorang Upik Abu yang berkawan dengan para princess beserta kepopulerannya.
Jadi begini ceritanya, ...

Dari sekian banyak siswa SD, Upik abu adalah satu-satunya murid yang telah diterima dan lulus ujian masuk SMP Favorit. Dengan segala keterbatasan dan serba kekurangan baik ilmu ataupun uang saku, upik abu adalah satu-satunya murid yang dari kampung nan dekil. Ndeso lebih tepatnya.
Kemudian, karena Upik abu adalah murid yang lugu dan pemalu tetapi ingin coba-coba sesuatu hal yang baru, berhasillah dia ikut serta Extrakulikuler Pasukan Pengibar Bendera alias PASKIBRA.
Dari sinilah, cerita persahabatan dimulai.

PASKIBRA identik dengan cewek-cewek cantik dan populer, sangat identik dengan jiwa KORSA (Komando Satu Rasa) yang tinggi, dan jiwa kepemimpinan yang tangguh. Dimulai dari Pra-capas (Pra-calon paskibra), Capas (Calon Paskibra), Paskibra, dan Purna Paskibra. Poin-poin yang penting dan banyak itu lah yang harus dicapai sebagai calon anggota Paskibra. Proses pencapaian yang tidak mudah, proses yang membutuhkan tenaga yang jauh lebih besar, proses yang membutuhkan mental seperti baja.
Ya, karena pencapaian-pencapaian inilah seorang Paskibra terbentuk mental jiwa kebersamaannya bersama anggota-anggota Paskibra lainnya.
Singkat cerita, Upik Abu adalah satu-satunya anggota Paskibra yang jelek, yang norak, yang dekil, yang pendek diantara anggota lainnya. Setiap formasi barisan, Upik abu selalu barisan akhir sesuai tingkat ketinggian badan.
Bangga? Jelas sangat bangga bisa menjadi Pasukan Pengibar Bendera. Setiap hari senin selalu jadi tontonan bahan pusat perhatian para peserta upacara Bendera. Menyenangkan, biarpun setelah pengibaran pasti selalu mendapat hukuman dari senior. Dan itu asyik, karena melakukannya secara bersama.
Begitulah Paskibra mendidik seorang Upik Abu.
Upik Abu yang pemalu kini sedikit berani, Upik Abu yang tidak populer kini sedikit dikenal oleh siswa-siswa lainnya meskipun dikenalnya sebagai temannya-cewek-cantik. Alhamdulillah Upik Abu bisa "terlihat" oleh banyak khalayak.

Melangkah menjadi seorang Senior, Upik Abu lebih suka disibukkan dengan para anggota pra-capas (adik tingkat). Disaat para princess sibuk punya pacar masing-masing, Upik Abu sibuk dengan Paskibra-nya. Bahkan pelatihnya sampai berkomentar, bahwa Upik Abu adalah 'kemit' nya Paskibra. -Kemit itu semacam penunggu, semacam marbot-. Sebenarnya, Si Upik ingin memiliki pacar, tapi apadaya tidak ada yang tertarik satu pun. Maklum, namanya juga Upik Abu.
Dan ketika para princessnya di eluk-elukkan oleh senior, guru, dan banyak fans-fans, Upik Abu hanya ada dibelakang princess sebagai pelengkap formasi. Sedihnya dia. Bahkan tidak jarang, Upik Abu sering minder untuk bergabung dan berteman dengan para princess. Ada rasa cemburu, ada rasa sakit hati merasa terabaikan, tapi hal seperti itu selalu termaafkan karena jiwa korsa sebagai Paskibra sejati.

Ya, sebesar itu peran Paskibra bagi Upik Abu dan para princess. Karena jiwa satu komando satu rasa lah, justru persahabatan yang dulunya sebagai formalitas pelengkap, menjadi persahabatan yang nyata.
Karena terlalu pendiamnya Upik Abu, hal yang dilakukan untuk princessnya adalah hanya sebagai pendengar curahan hati. Sebagai sahabat yang siap mendengarkan keluhan, tangisan, kebahagiaan para princess. Jadilah ia sebagai tempat curhat sejak saat itu.
Menjadi tempat curhat adalah keputusan yang sangat bagus untuk si Upik. Artinya, ia dibutuhkan banyak orang meski hanya sebatas pendengar dan penasehat. Mulai dari sinilah, si Upik lebih dicintai oleh para princess.

Kemudian Upik Abu dan para princess tumbuh menjadi wanita, menjadi perempuan yang berciri-khas masing-masing. Mereka tumbuh dan berkembang bersama, sejak usia 12 tahun sampai 18 tahun. Selalu bersama, meski ada tangisan sakit hati, tangisan pilu, tangisan bahagia. Upik Abu dengan hidupnya sendiri, para princess dengan hidupnya masing-masing. Menjalani persahabatan dengan sahabat baru masing-masing karena memang tidak selamanya mereka selalu bersama. Mereka membuka ruang untuk menerima sahabat dari lapisan manapun. Dan tetap, princess is princess. Princess bergaul dengan para bangsawan-bangsawan dan para pelaku populer. Juga, Upik Abu is Upik Abu. Tetap dengan gaya sederhana dan humble berteman dengan lapisan-lapisan yang sederhana. Tetapi ketika Upik Abu merasakan perihnya disakiti, para princess lah yang melangkah lebih depan untung melindungi si Upik dan memberikan benteng perlindungan untuk Upik.
Para princess lah yang menerima semua kekurangan-kekurangan Upik. Mereka yang menutupi kelemahan Upik. Mereka yang membela Upik. Mereka yang mencintai Upik tanpa melihat kasta.
Dan,
Si Upik Abu adalah nama lain dari diriku.

Yes. aku bangga dan bahagia menjadi Upik Abu ditengah-tengah para Princessku. Aku bahagia bisa melewati masa-masa 'hina' dan alay bersama para princess. Meski sekarang aku dan para princessku jarang sekali untuk berkomunikasi (tepatnya sejak kami sudah mulai kuliah diluar kota), meski kami tidak pernah bertukar nomor telepon, bahkan meski kami hanya menghubungi jika ada perlunya saja misalnya hanya sekedar curhat, tapi hal-hal seperti itu tidak pernah mengurangi rasa cintaku dengan princess-princessku. Karena menurutku, persahabatan bukan terletak dari seberapa kualitasnya kami berkomunikasi, tapi seberapa pentingkah aku menganggap mereka sebagai sahabat dan seberapa pentingkah mereka menganggapku sebagai sahabatnya. Thats it.
Selama apapun kami tak saling sapa, selama apapun kami tak saling komunikasi dan tak tahu kabar masing-masing, tapi jika kami masih menganggap bahwa masing-masing dari kami adalah "the true friendship" sekat jarak dan komunikasi pun tidak akan pernah menjadi alasan untuk kami untuk tidak saling mengasihi. Yes, sekali lagi persahabatan itu bukan soal komunikasi. Tapi soal rasa dan Sense Of Belong.

Hari ini, tanggal 9 Juni 2016, dengan usia kami yang telah menginjak 24 tahun, kami percaya bahwa kami adalah sahabat. Friendship never end.
Upik Abu masih mengingat tanggal lahir para princess:
1. 19 Januari
2. 31 Januari
3. 22 Maret
4. 31 Mei
5. 14 September
6. 24 Desember

Kadang, menjadi sahabat itu tidak perlu selalu mengucap 'Selamat Ultah Ya Kamu', cukuplah do'a dariku untuk princessku. Karena doa tidak selalu diajukan pada saat di hari lahir, tapi disetiap harinya disetiap waktu pada saat melakukan kewajiban, shalat. Jadi, kalau ada princess yang suka ngambek dan mutung karena tidak diucapkan dihari lahirnya, bukan berarti Upik lupa dengan princess. Karena ucapan selamat  ulang tahun tidak penting daripada Do'a. :)

Terima kasih untuk persahabatan 12 tahunnya, Princess.
Terima kasih sudah menjadikan seorang Upik Abu sebagai Princess meski hanya dalam bayanganku.
really miss you, ladies :')


Dedicated, to all my princess.




www.pinterest.com