Personal blog. Keep to be a silent reader. No bullying !

Monday, 27 February 2017
Berlangganan

Lets go, Hijrah (1)

Bismillahirrahmanirrahim
Akhirnya sampai juga di halaman blog yang sudah lamaaaaaa tak tersentuh 😂
Mulai saat ini insya Allah mau coba lebih produktif menulis (lagi), meski bahasa amburadul dan alur ngalor-ngidul tapi its oke lah ya namanya juga blogger-amatir 😂

Bismillah, hari ini akhirnya berani juga nulis soal Hijrah.
Berawal karena sering lihat di Instagram foto-foto yang semula syar'i menjadi non-syar'i, yang kemarin suka unggah foto mesra gonta dan ganti pacar eh alhamdulillah sekarang sudah berkerudung panjang dan berhijrah.
Lagi dan lagi, hijrah itu soal waktu. Soal bagaimana kita meresapi waktu demi waktu untuk belajar mencari tahu jati diri sendiri. Jati diri sebagai seorang Muslim dan Muslimah.
Sampai pada akhirnya Allah menurunkan Hidayah baik melalui perantara ataupun secara langsung.

Seperti yang sudah pernah aku tulis di sebelumnya, bahwa proses hijrahku melalui perantara.
Sampai dengan saat ini, aku masih jauh dari kata sholeha dan taat. Wallahi.
Hijrah itu step-by-step. Pelan tapi pasti.
Beberapa kesalahan yang pernah aku lakukan ketika aku berhijrah:

1. Aku memutuskan untuk berhijrah tanpa berbicara ke siapapun, tanpa memberitahu siapapun. Akhirnya? Banyak kesalahpahaman yang aku dapat dari orang-orang sekitarku, sahabat-sahabatku. Andai waktu itu aku memberitahu soal keinginan hijrahku, pasti tidak akan pernah terlontar "Neng mirip patung Budha tangannya ditangkup di dada". Kalimat yang membuatku sakit hati pada saat itu.

2. Berhijrah tanpa ada yang memantau (Murabbi). Ini sedikit agak salah. Kenapa? Karena tanpa panduan, bisa-bisa aku "tersesat". Merasa paling benar, paling tahu ilmu agama, paling suci. Itu yang aku alami.
Tapi berkat Allah, akhirnya aku dipertemukan dengan Bunda. Yang mana ternyata beliau akhirnya adalah istri dari ex-Presiden bem ku waktu itu. 😊

3. Selalu posting sindiran-sindiran misalnya "Maunya pacar yang sholeha, dimana-mana kalo sholeha mah gak pacaran kali".
Mentang-mentang diri ini selalu bangga dengan predikat jomblo yang tak tersentuh lelaki, jadi seakan-akan merendahkan orang-orang yg berpacaran. Menganggap diri sebagai orang suci dan sholeha. Astaghfirullahaladzim.
Memang sih maksud dari semuanya untul self-reminder, tapi ada beberapa orang yang tersinggung dengan postinganku dan berakhir dengan kerenggangan.

Ya itu lah bagian kecil dari "kesalahan" pada saat aku berhijrah.
Sampai pada akhirnya aku berfikir, dakwah itu tidak selalu men-jugde. Kamu salah, kamu berdosa, kamu haram, kamu riba di bank, kamu bid'ah. Meski tujuannya untuk diri sendiri, tapi ingatlah, Habluminannas dan Habluminallah harus seimbang.
Masih banyak treatment dakwah yang tidak menyakitkan hati orang lain.
Masih banyak kekurangan yang ada didalam diriku.
Masih banyak kemunafikan-kemunafikan yang ada di diri ini.
Sungguh aku bukan orang baik, hanya saja  Allah baik yang selalu menyimpan aib-aibku.
Wallahualam bishawab.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku dan dosa-dosa semua orang yang pernah membaca blogku.
Semoga tidak ada dusta diantara kita ya, my good readers 😊
Semoga selalu ada pembelajaran dibalik postingan-postinganku. Mohon yang buruk dibuang saja, yang baik-baik boleh untuk diterapkan.

Jakarta, 4 Maret 2017