Personal blog. Keep to be a silent reader. No bullying !

Thursday, 9 March 2017
Berlangganan

Terimakasih untuk Cinta Yang Lama

Pernahkah kita berfikir tentang siapa orang pertama yang paling kita cintai -tentu selain keluarga- ?

Aku adalah tipe orang yang sulit untuk jatuh cinta, sulit juga untuk melupakan, dan sedikit sulit untuk memaafkan (Insya Allah selalu dan selalu belajar untuk menjadi orang yang pemaaf).

Ada satu laki-laki yang aku cintai dalam waktu yang sangat lama. Enam tahun.
Selama itu aku mencintainya, mengaguminya, dan menghormatinya.
Laki-laki yang terbaik yang belum pernah ada tandingannya sampai saat ini.
Dia adalah Aa. Seorang senior di zaman SMP, SMA dan Kuliah dengan satu Almamater.
Tampan menawan, kurus tinggi putih. Berkacamata.
Dia lah alasan dan tujuan hidupku kala itu.
Seseorang yang tanpa langsung mengubah jalan hidupku.
Seseorang yang tanpa langsung membuatku menjadi seperti sekarang.

Kini tahun kesepuluh,
Tahun dimana aku sangat bahagia dan bangga kepadanya.
Meski benar memang kita tak pernah bersatu, tapi cintaku akan selalu tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.
Rasa cinta yang kini sudah berubah menjadi rasa cinta terhadap seorang kakak.
Ya. Sejak empat tahun yang lalu aku benar-benar melepasnya.
Melepaskan karena sadar bahwa cinta tidak selamanya untuk bersama.
Melepaskan untuk ketaatanku.

Terima kasih Aa.
Terima kasih untuk enam tahun yang mungkin sangat menyiksa perasaanmu.
Terima kasih selalu memberi yang terbaik untukku selama aku disisimu.
Terima kasih sudah memberikan aku teman-temanmu, kakakmu, dan orangtuamu kepadaku.

Semoga Aa selalu dikuatkan dan dimudahkan jalan hidupnya.
Semoga Aa diberi jodoh yang sangat baik dan shaleha.
Aku sangat bahagia karena akhirnya sudah melihat Aa sukses dengan apa yang Aa cita-citakan selama ini.

* Jika masih ada (lagi) yang bertanya bagaimana perasaanku terhadap beliau? Jawabannya masih sama dengan jawaban empat tahun yang lalu. Tidak.
Sungguh aku sudah tidak ingin memaksakan hatiku untuknya pun aku tidak ingin memaksa hatinya untukku.
Biarkan aku melepas diri dari bayang-bayangnya (karena sampai saat ini teman-teman selalu tanya kapan kami sebar undangan) dan aku tak ingin lagi menahan dan mempersulit jodohnya.
Izinkan kami berdua hidup dengan pilihan masing-masing. Dan menikah dengan laki-laki dan perempuan yang kami cintai.
Terima kasih sekali untuk orang-orang yang selalu mendukung dan mendoakan kami.
Bahwa benar, cinta tidak selalu harus bersama.

Untuk cinta di masa laluku,
Terima kasih sudah mengizinkanku untuk mengenalmu tanpa memilikimu.
Maha Suci Allah Sang Pemilik Hati, yang selalu melindungiku, yang menitipkan setiap luka dan bahagia untuk  dapat aku pelajari. Terima kasih Allah sudah menjaga hatiku untuk selalu istiqomah bahwa Sendiri sebelum halal adalah yang paling terbaik.