Personal blog. Keep to be a silent reader. No bullying !

Wednesday, 12 April 2017
Berlangganan

Lets Go Hijrah: RIBA.

RIBA.
Satu kata yang apalah itu artinya aku tak begitu paham, kala itu.
Dan bahkan sampai detik ini pula aku tak begitu memahami makna RIBA yang sebenarnya.
Pertama kali tahu Riba adalah dari sahabatku Bang Rizal.
Beliau insya Allah memang cerdas dalam semua hal pengetahuan.
Menjelang aku wisuda, masih dalam tahap revisi Skripsi.
Bang Rizal: "Neng si itu sekarang gimana? Udah kerja?"
Aku: "Belum bang, kemarin katanya dia abis interview di Bank xxx"
Bang Rizal: "Sayang banget ya neng, lulusan pertanian tapi masuk ke bank"
Aku: (nelen ludah, dalam hati 'kayanya mungkin aku juga bakal berakhir di Bank). "Iya ya bang"
Bang Rizal: Neng, kamu jangan sampai nanti kerja di Bank. Bukan apa-apa, Riba neng. Bayangin, kamu beli makan dan minum dari hasil gaji kamu, dari hasil riba. Terus makanan dan minuman itu masuk ke perut kamu neng jadi darah. Riba kamu nyatu sama darah kamu neng"
Aku: "Iya ya bang, serem".
Selesai.
Perkara Riba selesai disitu.
Betapa dangkalnya aku soal ilmu agama, bahkam Riba saja pun aku baru tahu karena obrolan yang tak sengaja itu.

Lambat laun, Riba sudah kulupakan.
Dilalahnya, semakin aku melupakan semakin di sosial media lagi gencar kampanye Say No To Riba. Di Instagram, Line, Facebook, semua soal Riba tiba-tiba bermunculan di Timeline Sosmedku. Setiap saat.
Mau tak mau, aku berani membaca. Sedikit demi sedikit.
Disaat pasca wisuda menjadi pengangguran selama 6 bulan, muncullah informasi bahwa aku lolos seleksi berkas di PT Bank BUMN di Jakarta.
Galau.
Pertama, karena aku selalu ingat kata-kata Bang Rizal waktu dulu.
Kedua, aku butuh pekerjaan.
Hal pertama yang aku lakukan adalah, diskusi dengan Ibu.
Ibuku terlalu demokratis, semua dikembalikan ke diriku, terserah.
Akhirnya aku shalat istikharah untuk meminta petunjuk.
Dan tidak lama setelah shalat, aku mantap untuk tidak berangkat Interview di Jakarta.

Beberapa minggu kemudian, alhamdulillah aku diterima di Perusahaan yang sesuai dengan inginku.
Mendapat pekerjaan dan gaji bulanan, yang sudah sangat cukup puas.
Godaan kembali merayu.
Karena kantor Cabangku diluar kota yang bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor, muncullah ideku untuk beli motor.
Diskusi dengan Ibuku.
Ibuku menyarankan untuk ambil motor, kredit.
Sempat tergoda dan terpikir "Iya ya, kalo gak kredit mana bisa aku beli motor".
Tapi lagi dan lagi Riba selalu membayangiku setiap hari.
Akhirnya kuputuskan, sudahlah aku pakai motor yang ada saja. Toh masih bisa jalan, masih bisa kukendarai.
Aku berhasil, melewati godaan Riba.

Ternyata pengetahuan soal Riba tidak boleh hanya aku yang tahu. Ibuku harus tahu.
Perlahan memberi pengertian, dan kemudian paham bahwa hutang di Bank adalah Riba.
Alhamdulillah Ibuku mengerti.

Sebenarnya aku sedikit tak enak jika membahas Riba di Sosial Media. Karena kebanyakan teman-temanku adalah Bankers.
Apalah jadinya jika mereka membaca postinganku, pasti tersinggung.
Tapi bukankah kita sebagai muslim harus mengingatkan bahwa yang salah adalah tetap salah?
Dan tidak semudah itu ketika "dakwah" kita terapkan kepada orang-orang terdekat kita.
Beruntungnya lagi dan lagi Sosial Media selalu mendukung Kampanye-kampanye mengenai persoalan Ilmu Islam.
Di Sosial Media sedang Booming "HIJRAH".
Sedang marak membagikan postingan terkait "Hidayah Allah".
Sedang ramai berbondong-bondong membahas Sunnah.
Alhamdulillah, Allah membukakan pintu hidayah kepada kami.

Tetapi ada yang salah dalam melangkah.
Gencar kampanye berhijrah, ramai berbicara soal Sunnah, tapi soal Riba dia lupakan.
Apa yang harus aku lakukan?
Sungguhlah siapa aku ini sebenarnya yang sangat tak pantas menilai seseorang sholeh dan sholeha.
Hati ini rasanya tak nyaman melihat.
Bahwa sesungguhnya memang boleh jadi dia lebih baik dariku, boleh jadi ilmunya lebih tinggi dariku.

Aku merasa terbingungkan oleh beberapa Manhaj yang sekarang sedang aktif disebarluaskan.
Berbeda dengan pemahamanku.
Berbeda dengan keyakinanku.
Tidaklah selain Allah Sang Maha Kaya, Maha Pemberi Ilmu, maka bukakanlah pintu ilmu bagiku Ya Allah.
Pandaikanlah aku untuk menuntut ilmu-ilmuMu.
Aku yang bodoh akan ilmu, yang bodoh soal Sunatullah, yang bodoh memaknai Hijrah.
Semoga Allah selalu membimbingku untuk belajar.
Semoga Allah membukakan pintu hati kami, teman-temanku yang belum dan yang sudah berhijrah.

Mungkin untuk saat ini aku harus memposisikan diri bahwa "Manhajmu adalah Manhajmu, Manhajku adalah Manhajku".
Biarlah Allah yang memilih siapa ahli Syurga dan siapa ahli Neraka, bukan soal Golongan. Wallahualam.
Semoga Allah selalu memberikanku petunjuk ilmu agama yang lebih dalam dan yang benar.

Jakarta, 12 April 2017.