Personal blog. Keep to be a silent reader. No bullying !

Monday, 1 May 2017
Berlangganan

Tak Berujung

Alhamdulillah, April berakhir. Bulan April dengan usia 25 tahun.
Alhamdulillah telah melewati usia di 24 tahun dan diamanahkan menginjak angka di 25.
Diusia yang sekarang sungguh tak lagi muda, alias seperempat abad sudah kuinjakkan tepat di bulan April.
Dengan kisah suka, duka dan penuh luka. Hingga bersyukur adalah satu-satunya yang harus kulakukan.
Bersyukur atas nikmat Allah, berupa kesehatan, rezeki, dan keluarga.
Tiga-tiganya sudah cukup mewakili alasan mengapa aku harus bahagia.
Memiliki seorang Ibu yang tak pernah menuntut apapun, yang tak pernah meminta uangku sepeserpun, yang tak pernah memarahiku satu kali pun seumur hidupku.
Dia lah satu-satunya 'rumah' bagiku.
Tempat perlindunganku.
Meski banyak apa yang tak kami miliki, asalkan bersama.
Terima kasih Allah untuk nikmat sehat yang Kau berikan kepada kami, kepada Ibuku.
Terima kasih telah menyembuhkan penyakit Ibuku.
Kali kedua aku merasakan benar-benar putus asa atas penyakit Ibuku, tapi Engkau memberikan Mukjizat kesembuhan.
Kali kedua pula aku benar-benar bersyukur telah diijinkan untuk melihat keajaiban-Mu. Keajaiban dari sebuah Do'a.
Bagaimana bisa aku mengabaikanMu atas hal ini, Ya Rabb?

Terima kasih Allah, atas kasih dan rasa sayangMu kepada keluargaku. Keluarga besarku.
Sungguh kami tak punya apapun, tapi Engkau mencurahkan RahmatMu sehingga kami selalu bertahan atas keterbatasan yang kami miliki.
Allahurabbi, jangan izinkan kami menjadi seorang kaya raya jika semuanya akan menjadi ketamakan dan kesombongan bagi kami sekeluarga.
Curahkan kami rezeki yang berkah dan halal. Rezeki kesehatan, rezeki kenikmatan dunia dan akhirat.

Ya Allah, Ya Rabb.
Izinkan aku ditahun ini untuk menuntaskan segala urusan-urusanku, agar aku bisa menyegerakan keinginan keluargaku. Menikah.
Selama ini aku baru mengerti kenapa Engkau belum mengizinkan aku untuk bertemu dengan satu laki-laki yang akan menikahiku.
Ternyata perkara menikah selama ini adalah hanya rasa keinginanku, rasa nafsuku bukan atas keniatanku.
Bertahun-tahun selalu terlibat dengan urusan cinta sendiri dan cinta bertepuk sebelah tangan, ternyata ini adalah ujianku.
Ujian apakah aku mampu untuk mempertahankan prinsipku.
Dan Allah selalu punyai alasan untuk selalu menggagalkan setiap perasaan yang kumiliki terhadap lawan jenis.
Dan kini, hadir pilihan diantara pilihan.
Yang ternyata masih tetap, Allah 'menggagalkan' nya dengan satu alasan: Masih ada urusanku yang belum aku selesaikan.

Urusan yang seperti apa hingga aku selalu 'menolak' pernikahan?
Urusanku untuk membahagiakan keluargaku.
Aku masih ingin mencari nafkah, untuk memberikan rumah yang layak yang selalu diimpikan Ibuku.
Aku harus mencari nafkah, untuk membelikan Ice Cream untuk adik-adik sepupuku.
Aku harus mencari nafkah, untuk persiapan pernikahanku karena aku tak punya orang yang menanggungku.
Aku harus mencari nafkah, karena tak ada Bapakku.
Aku harus mencari nafkah karena aku sadar, aku berjuang sendirian.
Aku harus mencari nafkah, karena semua keluargaku suatu saat nanti akan bergantung kepadaku.
Aku harus mencari nafkah, karena aku tahu saudara-saudaraku bukan orang kaya.
Aku harus mencari nafkah, karena aku harus membantu semua orang.
Aku tidak bisa menikah hanya karena agar aku terlepas dari tanggung jawab semacam ini.
Masih banyak beban yang harus aku luruskan. Setidaknya jika tidak dengan uang, mungkin dengan kehadiran dan rasa cinta kasihku terhadap keluargaku akan sedikit menolong bagaimana rasanya bertahan dan bahagia jika kita saling mencintai dan mengasihi.
Sudah lebih dari cukup meyakinkankah alasan mengapa sampai saat ini aku belum menikah dan belum pernah mendapatkan calon suami?

Andai seluruh keluargaku memahami, mengapa sampai saat di usia sekarang aku masih belum menikah dan masih belum pernah membawa lelaki ke rumah.
Bukan karena memang aku yang tak laku, atau bukan pula aku yang mengingini menjadi 'perawan hampir tua'.
Aku hanya ingin berusaha semampuku untuk berguna bagi keluargaku sampai aku menjadi milik keluarga lain, keluarga suamiku kelak.
Aku ingin menggapai Syurga di Ibuku sebelum aku berpindah menggapai Syurga di suamiku.
Aku ingin menjadi anak yang sholeha bagi Ibuku, sebelum aku menjadi istri sholeha untuk suamiku.
Aku ingin menjadi pemberat amal akhirat bagi Ibuku.

Ah, mengapa aku selalu menitikkan airmata ketika aku selalu menulis tentang Ibu dan keluargaku di Blog ini.
Rasanya memang akan berat jika mengingat aku berjuang sendirian.
Tapi semua akan aku lakukan demi kehidupanku yang jauh lebih baik.
Tidak ada yang akan membahagiakanku, kecuali diriku sendiri.
Allah, mohon dampingi dan terus membersamaiku.
Mohon untuk selalu menguatkanku dalam segala situasi.
Karena tidak ada hal lain yang kupunya, selain Dirimu Ya Rabbi.

Jakarta, dengan hujan air mata.
01 Mei 2017.
22.31